Pertukaran Pemuda Antar Negara 2019 (International Youth Exchange Program 2019)

Pertukaran Pemuda Antar Negara 2019 (International Youth Exchange Program 2019)

 

     Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) salah satu kompetisi yang pada awalnya sangat menyeramkan bagiku. Untuk berpikir mengikutinya saja aku butuh waktu tiga tahun sampai akhirnya aku berhasil memberanikan diri untuk mengikutinya. Ketakutanku ini bukan tanpa alasan. PPAN merupakan sebuah kompetisi yang diikuti oleh para pemuda terbaik dari seluruh daerah di provinsiku, yaitu Provinsi Jambi, dan dilaksanakan dengan penyeleksian yang ketat. Penyeleksian inilah yang membuat PPAN menjadi terlihat menyeramkan.

     Akhirnya pada tahun 2018, tepatnya pada bulan April, aku memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi ini dengan tujuan melepas ambang batas kemampuanku dan belajar dari kompetisi tersebut. Aku mengikuti setiap fase penyeleksian dengan persiapan yang terbatas. Namun, aku merasakan hal yang cukup aneh karena di satu sisi kompetisi ini terasa sangat berat tetapi  di sisi lain justru sangat menyenangkan. Hal ini kurasakan ketika dikarantina bersama dengan  55 orang peserta lain di hotel yang sama. Dari sanalah rasa kekeluargaan tumbuh dan berkembang. Setiap rangkaian kegiatan di kompetisi ini juga meningkatkan hal-hal positif yang dirasakan oleh seluruh peserta. Setiap peserta saling mendukung satu sama lain bahkan sejak awal seleksi dimulai. Saling membantu dalam persiapan penampilan seni, beribadah bersama, dan makan bersama merupakan beberapa bukti tumbuhnya rasa kebersamaan tersebut.  Aku juga tertarik dengan cara kerja manajemen PCMI. Mereka membuat setiap rangkaian seleksi dan penilaian secara transparan dengan memublikasikan detail penilaian kepada seluruh peserta. Para juri turut memberikan masukan yang konstruktif bagi seluruh peserta sehingga semakin memompa semangat dan motivasi peserta untuk lebih meningkatkan kemampuan diri.

     Pada akhirnya hanya dua orang yang terpilih menjadi delegasi dan aku tidak terpilih sebagai salah satu di antaranya. Namun, pelajaran, pengalaman, dan semangat untuk lebih berkembang dari kompetisi ini tidak dapat kuperoleh di kompetisi lain.  PPAN 2018 telah selesai, tetapi  semangatku untuk mempersiapkan diri di PPAN 2019 berkobar. Aku memulai persiapan dengan meningkatkan kompetensi yang membuatku tidak dapat bersaing dengan baik di PPAN 2018.  Aku selalu percaya dengan kata-kata “setiap hasil tidak akan mengkhianati usaha” dan ini kubuktikan sendiri. Persiapanku selama satu tahun untuk meng-upgrade diri terbayarkan dengan terpilihnya aku untuk menjadi delegasi Jambi untuk Pertukaran Pemuda Antar Negara Indonesia – Korea (PPIKor) 2019. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena salah satu mimpiku untuk menjadi delegasi Jambi dan Indonesia di negara lain dengan mengenakan seragam kebangsaan akhirnya tercapai. Dari sinilah aku belajar banyak bagaimana berusaha menaklukan rasa takut akan kompetisi yang belum aku ikuti namun setelah langsung mengikutinya, rasa takut itu berubah menjadi kobaran semangat untuk meningkatkan kapasitas diri dan selama tetap berjuang maka “universe will answer our effort with great result”.

–––––

     International Youth Exchange (PPAN) is one of the competitions that was very scary at first for me to only think about following it, it took me three years to finally be able to dare to take part in it. Not without reason, PPAN is a competition followed by the best young people from all regions in Jambi Province and carried out with strict selection. The strict selection makes PPAN look even more frightening.

     But in 2018, precisely in April, I ventured to take part in this competition with the aim of releasing the threshold of my abilities and learn from it. I followed every phase of selection with limited preparation. However, I felt something quite strange because on one side this competition was very hard but on the other hand it was very fun. I felt this when quarantined together with fifty-five other participants in the same hotel. From there the sense of kinship grows and develops. Each series of activities in this competition also increases the positive things felt by all participants. Each participant supports each other since the beginning of the selection. Helping one another in preparing for art performances, worshiping and eating together are some proof of the growing sense of togetherness. I’m also interested in how PCMI management works. They made each series of selection and evaluation transparently by publishing assessment details. The judges also gave constructive advice to all participants so that the participants were more motivated to further improve their abilities.

          In the end only two people were chosen as the delegates and I was not chosen as one of them, but the lessons, experience, and enthusiasm for being more developed was what could not be obtained in other competitions. Finished with PPAN 2018, the spirit flared to prepare for PPAN 2019. I started the preparation by improving my competence which made me unable to compete well in PPAN 2018. I always believe in the words “the result will not betray the effort” and this I prove myself.  My preparations for one year to upgrade myself paid off with my success to become the Jambi delegation for the Indonesia-Korea Youth Exchange of 2019. This is certainly a distinctive pride because one of my dreams of becoming a delegation from Jambi and Indonesia in another country wearing a national uniform was finally achieved. From here I learnt a lot about trying to conquer the fear of competition that I had not yet followed, but after directly commenting on that feeling, it turns into great enthusiasm to escalate my capacity and as long as I strive “the universe will answer our efforts with great results”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *